19 Januari 2018

Guru : Solusi atau Masalah Pendidikan?

Guru : Solusi atau Masalah Pendidikan?

Oleh : Muzanip Alperi, S.Pd., M.Si
(Pengembang Teknologi Pembelajaran dan Instruktur Kurikulum 2013 di LPMP Provinsi Bengkulu)


Memasuki pertengahan tahun 2017 ini banyak dijumpai pemberitaan tindak kejahatan. Anak membunuh orang tua dengan sadisnya. Anak mengakhiri hidupnya dengan menengak racun akibat tidak lulus ujian. Anak tewas usai pesta narkoba akibat oper dosis. Dan kasus korupsi berselaweran mewarnai pemberitaan di berbagai media. Serta masih banyak lagi sederet tindak kejahatan yang membuat kening kita mengernyit dan geleng-geleng kepala.


Lantas bagaimana peranan pendidikan? Mengapa pendidikan tidak bisa mencegah laju kejahatan tersebut? Apakah ada salah dengan sistem pendidikan di Indonesia?


Kondisi bangsa saat ini begitu memprihatinkan. Hal tersebut memiliki korelasi yang signifikan dengan dunia pendidikan. Bagaimana tidak semakin tinggi tingkat pendidikan maka semakin berkarakter pula pola pikir seseorang. Namun tidak demikian. Kondisi tersebut malah berbanding terbalik. Semakin tinggi pendidikan seseorang maka semakin tinggi dan berkarakter pula tindak kejahatannya.
Seperti yang diberitakan di harian Rakyat Bengkulu beberapa waktu lalu. Pelaku korupsi mayoritas dilakukan oleh oknum sarjana. Sangat memprihatinkan bukan? Sarjana yang menjadi harapan bangsa ternyata musuh di dalam selimut.


Pendidikan Karakter, Pondasi dan Ruh Pendidikan


Pendkidikan karakter adalah hal penting dalam dunia pendidikan. Karakter adalah kepribadian, cara pikir dan prilaku individu. Karakter menjadi sumber permasalahan yang terbesar dan mendasar bangsa ini. Karakter bangsa saat ini sedang memasuki masa darurat. Bagaimana tidak agenda besar pemerintah saat ini adalah pembahasan Revolusi Karakter Bangsa (RKB). Hal tersebut terpatri dalam agenda nawacita nomor 8 dalam system pemerintahan kita.


Tidak mudah untuk membangun karakter yang baik. Butuh waktu yang lama untuk mengajarkan budaya disiplin dibandingkan mengajarkan konsep bilangan pada siswa. Setiap hari anak-anak didik diingatkan tentang disiplin. Tapi tidak setiap hari anak-anak diajarkan tentang penjumlahan.


Akan banyak kita temui setiap hari di Bengkulu. Pengemudi yang tidak patuh pada rambu lalu lintas. Sebaliknya hampir tidak pernah kita temui pembelajaran bilangan mata pelajaran matematika yang mendapat nilai di bawah 65. Pembelajaran Karakter sulit sekali menuju tuntas. Tapi pembelajaran matematika akan sangat mudah kita tuntaskan dengan penjelasan ulang dan remidial.
Di Negara-negara maju, guru matematika jauh lebih takut jika anak didik tidak bisa antrian dibanding tidak bisa matematika itu sendiri. Penting dan mendalam untuk mendidik dan membangun karakter baik. Sebab jika karakter sudah tertanam dalam jiwa anak didik, pembelajaran konten keilmuan akan lebih mudah diajarkan. Sebaliknya, jika keilmuan yang mendominasi atas karakter, akan lahir generasi intelek namun tidak bermoral. Anak didik akan jadi musuh dalam selimut dan tercipta problem baru yang jauh lebih rumit, lebih bahaya bukan.


Akibatnya, tidak kuatnya pengembangan pendidikan karakter banyak kita temui intelektual yang tidak memiliki karakter baik. Cerdas tapi tidak berkarakter baik, alhasil menjadi bagian masalah negeri ini. Koruptor, perampokan, seks bebas, narkoba,dan sederet karakter jelek lain yang muncul.


Implemetasi kurikulum 2013 dengan gerakan Pengembangan Pendidikan Karakter (PPK) bagian dari solusi mengatasi permasalahan yang mendasar tentang dekarakter ini. Gerakan PPK di sekolah dimotori oleh Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PTK) terutama guru. Guru tidak hanya “memberi contoh” tapi lebih dari itu “sebagai contoh”. Konotasi memberi contoh belum tentu melakukan, namun menjadi contoh dimaknai bahwa guru sudah melakukan karakter baik dan dicontoh oleh anak didik. Dapat juga dikatakan bahwa guru menjadi tauladan, idola dan idaman anak didik.


Guru merupakan ujung tombak keberhasilan proses pendidikan di sekolah, maka peran guru di sekolah menjadi paling strategis untuk meningkatkan mutu sekolah. Guru yang memiliki kompetensi dan bekerja sesuai dengan tupoksi adalah guru idaman. Guru idaman inilah yang sering disebut dengan guru sebagai profesi paling mulia.


Guru adalah profesi, mengajar adalah kerja profesional artinya mengajar tidak bisa diwakilkan dengan orang lain yang bukan guru (tidak profesional). Kompetensi guru menurut Permendiknas 16 tahun 2007 terdiri dari :Kompetensi Pedagogik, Kompetensi Profesional, Kompetensi Kepribadian, dan Kompetensi Sosial.


Dalam kaitannya dengan PPK kompetensi yang paling ditekankan adalah kompetensi kepribadian. Kompetensi kepribadian merupakan sejumlah kompetensi yang berhubungan dengan kemampuan pribadi dengan segala karakteristik yang mendukung pelaksanaan tugas. Dalam Standar Nasional Pendidikan, penjelasan Pasal 28 ayat (3) butir b, dikemukakan bahwa yang dimaksud dengan kompetensi kepribadian adalah kemampuan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik, dan berakhlak mulia.


Inilah kompetensi yang melekat dalam diri seorang guru profesional. Implementasinya tidak semudah membalikkan telapak tangan, butuh suatu energi dan karakter yang kuat. Kompetensi yang menyatu dengan jiwa dan harapan , paling tidak nuansa generasi emas sudah memegang kendali di negeri ini.


Pembelajaran yang berdasarkan High Order Thingking Skill (HOTS) dan keterampilan abad 21 (berkarakter, prinsip literasi dan kompetensi 4K : Kritis, Kolaborasi, Komunikasi, Kreatif) akan menambah nuansa indah dalam menciptakan anak didik yang berkualitas.


Bisa dibayangkan jika seorang sakit jantung ditangani oleh dokter mata, maka pasien akan cepat mati mendadak karena dokternya tidak sesuai keahliannya. Jika kita berpikir seorang guru yang tidak profesional akan menyebabkan “korban” yang tidak sedikit, dokter yang mal praktek paling menimbulkan korban satu atau 2 orang kemudian orang tidak mau lagi berobat ke dokter tersebut. Tapi guru yang mal praktek akan menyebabkan banyak siswa yang mengalami kesesatan. Korban yang disebabkan guru yang mal praktek akan terus bertambah sebab anak bangsa yang sudah mendapatkan suatu konsep ilmu dan atau karakter yang salah akan terus menularkannya ke generasi berikutnya.


Analogi Multi Level Marketing (MLM) baik sepertinya untuk memudahkan pemahaman menularnya kesalahan guru lebih khusus tentang karakter (prilaku). Ketika contoh yang disampaikan salah akan tersebarlah kesalahan kemana-mana. Artinya guru yang salah akan menyebarlah kesalahannya dimana-mana dan dari generasi ke generasi. Apa yang bisa kita simpulkan, guru bertabur kesalahan bisa memungkinkan identik dengan kehinaan/dosa. Jika demikian, akan ada yang mengatakan kalau demikian pantaskah profesi paling mulia masih disematkan di dada seorang guru?


Kesimpulannya, karakter bagian solusi mengatasi masalah bangsa. Jadilah guru yang memiliki kompetensi kepribadian untuk menguatkan pengembangan pendidikan karakter. Salam 2017 menuju masa keemasan Indonesia tahun 2045. (Sofian)



Tidak ada komentar untuk berita/informasi ini.
Tinggalkan Komentar

Alamat Kami

LPMP Bengkulu
Jl. Zainul Arifin No.2,Singaran Pati,Kota Bengkulu, Bengkulu 38229,Indonesia
+62 736 26848
Website : http://www.lpmpbengkulu.net

Random News
10pos tes pkb.png

POSTES PENGEMBANGAN KEPROFESIAN BERKELAN...

Ditulis Pada : 19 Desember 2017
no-image.jpg

Persiapan Menuju Olimpiade Sains Interna...

Ditulis Pada : 11 Desember 2015
40TUT WURI HANDAYANI.png

Pelatihan Implementasi K-13 bagi Guru Sa...

Ditulis Pada : 12 Juli 2016
Statistik Pengunjung
146301
Pengunjung hari ini : 15
Total pengunjung : 48988
Hits hari ini : 85
Total Hits : 146301
Pengunjung Online : 1
Facebook Like